Kamis, 13 Oktober 2016

Polemik Petahana


Agama Islam mengatur semua seluk-beluk kehidupan..

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan" (QS. Al Baqarah: 208)

Sejak kita bangun pagi, masuk kamar mandi, adab ketika makan, keluar rumah, adab ketika berdagang/ berusaha, semuanya.. ada petunjuknya di dalam Islam.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (QS. Al-Ahzâb: 21)

Bahkan dalam tatanan yg lebih kompleks, ada Sistem Hukum Islam, Ekonomi Syariah Islam, dsb. Mengapa? Karena pada esensinya, umat islam memahami bahwa semua yang dilakukannya di dunia ini merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Sehingga seharusnya dapat mudah dipahami, jika umat Islam ingin memilih pemimpin yg muslim.. karena kebijakan-kebijakan yg dibuatnya, akan otomatis berdampak kepada umat.

Sebuah contoh sederhana, jika seorang pemimpin kota mengadakan acara menyambut tahun baru dengan mendirikan puluhan panggung musik dan pesta kembang api, apakah itu dapat dikatakan sesuai dengan tuntunan Islam?

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27).

Jika pemimpin tersebut adalah seorang muslim, maka dapat kita doakan agar diampuni kesalahannya dan agar dalam menjalankan amanahnya selanjutnya dapat lebih mengikuti perintah dan larangan di dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Namun bagaimana jika pemimpin tersebut non-muslim? Bukanlah prestasi dunia yang dikejar oleh seorang muslim, melainkan bagaimana mempersiapkan bekal sebaik-baiknya untuk akhirat.

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. ” (Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawâriduzh Zham’ân); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu)

Akhir kata, konstitusi negara kita mengatur kebebasan menjalankan agama.

“Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, ..." (Pasal 28E ayat (1) UUD 1945.)

Jika tidak mampu memahami, maka toleransi lah jawabannya.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

" Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al Kafirun: 6)


Wallahu A'lam Bishawab

Selasa, 16 Agustus 2016

Indonesia Belum Merdeka

“Dulu Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Setiap nabi meninggal, nabi lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku. Akan tetapi, nanti akan ada banyak khalifah.” (HR al-Bukhari dan Muslim)


Masuknya Islam ke Indonesia

Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad ke-7. (Prof. Dr. Uka Tjandrasasmita, dalam Ensiklopedia Tematis Dunia Islam Asia Tenggara, Kedatangan dan Penyebaran Islam, 2002, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, hlm. 9-27).


Sebuah kesultanan Islam bernama Kesultanan Peureulak didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M. Demikian pula Kerajaan Ternate tahun 1440. Kerajaan Islam lain di Maluku adalah Tidore dan Kerajaan Bacan. Institusi Islam lainnya di Kalimantan adalah Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai. Di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi kesultanan Peureulak, Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang. Adapun kesultanan di Jawa antara lain: Kesultanan Demak yang dilanjutkan oleh Kesultanan Jipang, lalu dilanjutkan Kesultanan Pajang dan dilanjutkan oleh Kesultanan Mataram, Cirebon dan Banten. Di Sulawesi, Silam diterapkan dalam institusi Kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Di Nusa Tenggara penerapan Islam di sana dilaksanakan dalam institusi Kesultanan Bima. (Ensiklopedia Tematis Dunia Islam: Khilafah dalam bagian "Dunia Islam Bagian Timur", PT. Ichtiar Baru Vab Hoeve, Jakarta. 2002).

Seiring perjalanan waktu, hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik di Indonesia. A.C Milner mengatakan bahwa Aceh dan Banten adalah kerajaan Islam di Nusantara yang paling ketat melaksanakan hukum Islam sebagai hukum negara pada abad ke-17. Di Banten, hukuman terhadap pencuri dengan memotong tangan bagi pencurian senilai 1 gram emas telah dilakukan pada tahun 1651-1680 M di bawah Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Iskandar Muda pernah menerapkan hukum rajam terhadap putranya sendiri yang bernama Meurah Pupok yang berzina dengan istri seorang perwira. Kerajaan Aceh Darussalam mempunyai UUD Islam bernama Kitab Adat Mahkota Alam. Sultan Alaudin dan Iskandar Muda memerintahkan pelaksanaan kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam dan ibadah puasa secara ketat. Hukuman dijalankan kepada mereka yang melanggar ketentuan. (Musyrifah Sunanto, 2005).

Di samping penerapan syariah Islam, hubungan Nusantara dengan Khilafah Islam pun terjalin. Pada tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayyah. Sang Raja meminta dikirimi dai yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama Sribuza Islam. (Ayzumardi Azra, 2005). -

Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh.


“Sesuai dengan ketentuan adat istiadat kesultanan Aceh yang kami miliki dengan batas-batasnya yang dikenal dan sudah dipunyai oleh moyang kami sejak zaman dahulu serta sudah mewarisi singgasana dari ayah kepada anak dalam keadaan merdeka.

Sesudah itu kami diharuskan memperoleh perlindungan Sultan Salim si penakluk dan tunduk kepada pemerintahan Ottoman dan sejak itu kami tetap berada di bawah pemerintahan Yang Mulia dan selalu bernaung di bawah bantuan kemuliaan Yang Mulia almarhum sultan Abdul Majid penguasa kita yang agung, sudah menganugerahkan kepada almarhum moyang kami sultan Alaudddin Mansursyah titah yang agung berisi perintah kekuasaan.

Kami juga mengakui bahwa penguasa Turki yang Agung merupakan penguasa dari semua penguasa Islam dan Turki merupakan penguasa tunggal dan tertinggi bagi bangsa-bangsa yang beragama Islam. Selain kepada Allah SWT, penguasa Turki adalah tempat kami menaruh kepercayaan dan hanya Yang Mulialah penolong kami."

Petikan isi surat tersebut dikutip dari Seri Informasi Aceh th.VI No.5 berjudul Surat-surat Lepas Yang Berhubungan Dengan Politik Luar Negeri Kesultanan Aceh Menjelang Perang Belanda di Aceh diterbitkan oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh tahun 1982 berdasarkan buku referensi dari Anthony Reid, ”Indonesian Diplomacy a Documentary Study of Atjehnese Foreign Policy in The Reign of Sultan Mahmud 1870-1874”, JMBRAS, vol.42, Pt.1, No.215, hal 80-81 (Terjemahan : R. Azwad).


Penjajahan Belanda di Indonesia

Pada masa penjajahan, Belanda berupaya menghapuskan penerapan syariah Islam oleh hampir seluruh kesultanan Islam di Indonesia. Salah satu langkah penting yang dilakukan Belanda adalah menyusupkan pemikiran dan politik sekular melalui Snouck Hurgronye.

Keputusan Raja tanggal 4 Februari 1859 No. 78 yang membenarkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda mencampuri masalah agama dan mengawasi setiap gerak-gerik para ulama, bila dipandang perlu, demi kepentingan ketertiban dan keamanan.

Snouck Hurgronje menyatakan dalam bukunya, Arabie en Oost Indie (hlm. 22), bahwa orang Islam di Indonesia sebenarnya hanya tampaknya saja memeluk Islam dan hanya di permukaan kehidupan mereka ditutupi agama ini. Ibarat berselimutkan kain dengan lubang-lubang besar, tampak keaslian sebenarnya, yang bukan Islam. Orientalis lain, J.C. Van Leur, bahkan menyimpulkan bahwa Islam tidak membawa perubahan mendasar sedikit pun di kepulauan Melayu-Indonesia dan tidak juga perabadan yang lebih luhur daripada peradaban yang sudah ada.

Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib Al-Attas menolak keras teori para sarjana Barat yang menganggap kehadiran Islam di wilayah Melayu-Indonesia ini tidak meninggalkan sesuatu yang berarti bagi peradaban di wilayah ini. Ia menulis, “Banyak sarjana yang telah memperkatakan bahwa Islam itu tidak meresap ke dalam struktur masyarakat Melayu-Indonesia; hanya sedikit jejaknya di atas jasad Melayu, laksana pelitur di atas kayu, yang andaikan dikorek sedikit akan terkupas menonjolkan ke hinduannya, kebudhaannya, dan animismenya. Namun menurut saya, paham demikian itu tidak benar dan hanya berdasarkan wawasan sempit yang kurang dalam lagi hanya merupakan angan-angan belaka.” (Lihat, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, 1990:41).

Al-Attas bahkan menyebutkan, kedatangan Islam di wilayah Nusantara merupakan peristiwa paling penting dalam sejarah kepulauan Melayu-Indonesia. M.C. Ricklefs dalam bukunya, A History of Modern Indonesia, memulai penulisan sejarah Indonesia modern dengan kedatangan Islam. Islam, tulisnya, membawa banyak perubahan penting dan mendasar dalam masyarakat kepulauan Melayu-Indonesia.

Menurut Al-Attas dalam Preliminary Statement on a General Theory of the Islamization of the Malaysia Indonesian Archipelago, Islam datang ke kepulauan Melayu-Indonesia membawa semangat religius yang amat intelektual dan rasionalistis, sehingga mudah masuk ke dalam pikiran rakyat. Ini menyebabkan kebangkitan rasionalisme dan intelektualisme yang tidak dinyatakan dalam masa-masa pra-Islam. Timbulnya rasionalisme dan intelektualisme ini dapat dipandang sebagai semangat yang kuat yang menggerakkan proses revolusi dalam pandangan dunia Melayu-Indonesia, dan mengelakkannya dari dunia mitologi yang rontok. Semangat rasionalisme dan intelektualisme ini bukan saja di kalangan istana dan keraton, bahkan juga merebak di kalangan rakyat jelata. (hlm. 5-6)


Hubungan Belanda dan Islam

Tanpa diketahui banyak orang, awal hubungan antara Belanda dengan Islam/Dunia Islam dapat dilacak hingga berabad-abad yang lalu. Misalnya, selama 80 tahun perang kemerdekaan Belanda dari dominasi Spanyol di abad ke 15 dan 16, Belanda secara aktif mencari dukungan dari Khalifah di Istanbul. Pemimpin resistensi Belanda, Raja William I ‘Oranye’ mencari sokongan dana dan persenjataan dari Khalifah, yangk akhirnya dikabulkan. Khalifah mendukung pemberontakan Belanda dengan dana, dan angkatan lautnya menyerang armada kapal perang Spanyol di Laut Mediterania untuk membantu melepas tekanan Spanyol terhadap Belanda.

Setelah mencapai kemerdekaanya, Belanda diundang untuk membuka kedutaan di negara Khilafah, yang dibuka di tahun 1612. Cornelis Haga adalah duta besar Belanda pertama pada masa pemerintahan Khalifa Ahmed I (1603-1617). Karena kerjasama Khalifah dalam Perang Kemerdekaan Belanda, Belanda menjalin kerjasama perdagangan dengan umat Islam. Mereka membuka kantor konsuler di berbagai kota pelabuhan di kawasan Mediterania, termasuk membuka daerah komunitas Belanda di kota Smyrna (Izmir) dalam wilayah kekuasaan Khilafah Uthmani. Di daerah tersebut, warga Belanda diberi kebebasan beragama dan mendirikan gereja dan membangun pemakaman disamping juga rumah sakit, tempat pembuatan roti, dan bahkan kedai bar. Duta besar Belanda untuk Indonesia saat ini, Nicolaos van Dam bahkan menulis buku tentang relasi Belanda dengan Khilafah Uthmani dalam bukunya “Belanda dan Dunia Arab: Dari Abad Pertengahan menuju Abad ke 21.”

Salah satu konsekuensi dari hubungan dagang yang dilakukan melalui laut adalah terlibatnya banyak pelayar Belanda yang ikut mengabdi dalam Angkatan Laut Khilafah Islam. Contohnya adalah Jan Janszoon van Haarlem dan Ivan Dirkie de Veenboer, yang kemudian berganti nama sebagai Murat Reis dan Suleyman Reis setelah mereka memeluk Islam. Maka sejak abad 17 dan 18 sudah ada beberapa warga Belanda yang telah masuk Islam.

Bermula dari hubungan ini juga, banyak warga Belanda yang kemudian mempelajari Islam dan juga bahasa yang digunakan oleh umat Islam. Di tahun 1575, Universitas Leiden membuka Fakultas Bahasa ‘Orient’ (kawasan Asia Timur) untuk membekali warga Belanda dengan kemampuan bahasa seperti bahasa Arab, Turki, dan Persia, serta juga pengetahuan tentang Islam. Bidang studi ‘Orient’ ini dimulai untuk mendukung hubungan perdagangan dengan umat Islam. Namun sejak turunnya pamor intelektual serta pengaruh Khilafah Islam terhadap dunia, studi tentang Islam dan bahasa umat Islam di Belanda mulai berpindah arah dan tujuan.

Ketika Belanda menjajah Indonesia, pengetahuan yang dimiliki Belanda tentang Islam dan Bahasa para pemeluknya digunakan untuk mendukung upaya penundukan umat Islam dan penjarahan sumber daya alamnya. Hal ini sungguh menjadi ironi tersendiri dan kejahatan terburuk dalam sejarah peradaban. Belanda memulai untuk belajar tentang Islam karena kaum muslim telah membantu mereka ketika mereka tertindas oleh Spanyol, menawarkan perdagangan, dan menerima mereka dengan persahabatan di wilayah kekuasaan mereka. Setelah terbebasnya kota Leiden di Belanda dari pendudukan Spanyol, suatu Universitas dibangun diatasnya sebagai monumen kemenangan dan di kampus inilah studi Bahasa Orient berkembang pesat. Namun ketika Muslim mulai menurun pengaruhnya, pengetahuan yang dibina di kampus Universitas Leiden justru digunakan untuk menundukkan dan menjajah umat muslim yang sama yang sebelumnya telah membantu Belanda, memberi perlakuan istemewa dalam perdagangan dan memperlakukannya dengan hormat.


Pelemahan Umat Islam di Nusantara
 
Penjajah Belanda kemudian berupaya melemahkan dan menghancurkan Islam dengan 3 cara,yaitu:

Pertama: memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam. Dihapuslah kesultanan Islam. Contohnya adalah Banten. Sejak Belanda menguasai Batavia, Kesultanan Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan. Seluruh penerapan Islam dicabut, lalu diganti dengan peraturan kolonial.

Kedua: melalui kerjasama raja/sultan dengan penjajah Belanda. Hal ini tampak di Kerajaan Islam Demak. Pelaksanaan syariah Islam bergantung pada sikap sultannya. Di Kerajaan Mataram, misalnya, penerapan Islam mulai menurun sejak Kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda.

Ketiga: dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah. Pemerintah Belanda membuat Kantoor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama (penasihat pemerintah dalam masalah pribumi). Kantor ini bertugas membuat ordonansi (UU) yang mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck Hurgronye. Dikeluarkanlah: Ordonansi Peradilan Agama tahun 1882, yang dimaksudkan agar politik tidak mencampuri urusan agama (sekularisasi); Ordonansi Pendidikan, yang menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi; Ordonansi Guru tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru agama Islam memiliki izin; Ordonansi Sekolah Liar tahun 1880 dan 1923, yang merupakan percobaan untuk membunuh sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam didudukkan sebagai sekolah liar. (H. Aqib Suminto, 1986).

Demikianlah, syariah Islam mulai diganti oleh penjajah Belanda dengan hukum-hukum sekular. Hukum-hukum sekular ini terus berlangsung hingga sekarang. Walhasil, tidak salah jika dikatakan bahwa hukum-hukum yang berlaku di negeri ini saat ini merupakan warisan dari penjajah; sesuatu yang justru seharusnya dienyahkan oleh kaum Muslim, sebagaimana mereka dulu berhasil mengenyahkan sang penjajah: Belanda.



Sumber:
[1] https://saripedia.wordpress.com/tag/hubungan-nusantara-dengan-khalifah-islam/
[2] http://www.slideshare.net/hannafatiha/kerajaan-kerajaan-islam-di-nusantara
[3] http://www.voa-islam.com/read/indonesia/2009/11/17/1732/jejak-khilafah-dan-syariah-di-indonesia/;#sthash.AZHte4CM.dpbs
[4] http://atjehpost.co/berita2/read/Sepucuk-Surat-Dari-Ottoman-607
[5] http://cintabunda1990.blogspot.co.id/2014/05/orientasi-dan-sejarah-indonesia.html
[6] http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/31/idries-de-vries-kemerdekaan-belanda-berkat-bantuan-khilafah-utsmaniyah/
[7] http://www.academia.edu/24417293/POLITIK_HUKUM_HINDIA_BELANDA_DAN_PENGARUHNYA_TERHADAP_LEGISLASI_HUKUM_ISLAM_DI_INDONESIA

Minggu, 27 Maret 2016

Ikhlas = Tauhid


قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (١) اللَّهُ الصَّمَدُ (٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (٤)

1) katakanlah: "Dia-lah Allah ,Yang Maha Esa
2) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3) Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan
4) dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (QS. Al-Ikhlas: 1 - 4)

Surat Al-Ikhlas berisi pokok-pokok ajaran Tauhid. Begitu pentingnya Tauhid, sehingga Rasulullah SAW mengatakan bahwa 1 surat Al-Ikhlas = 1/3 Al-Qur'an.

Dari Abu Sai’id Ra ia berkata: “Ada seorang laki-laki mendengar seseorang sedang membaca Al-ikhlas dan ia mengulang-ngulangnya. Dan di pagi harinya laki-laki tersebut datang kepada Nabi SAW dan menceritakan hal tersebut dan seakan-akan dia mengangap sepele hal tersebut, maka Nabi SAW bersabda: “Demi Dzat yang diriku ada pada Tangan-Nya, sesungguhnya ia (surat Al-Ikhlas) sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Bukhori 7374)


Sebagaimana tercantum pada Surat Al-Ikhlas ayat 1-2, ajaran Tauhid mengharuskan kita untuk hanya menyembah Allah SWT, dan tidak bergantung selain kepada-Nya.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan". (QS. Al-Fatihah: 5)

Tidak hanya pada saat melakukan ibadah mahdhah, seperti sholat, puasa, zakat, dan haji. Namun juga seluruh aktivitas kita, harus dilandaskan pada niat mencari ridho-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Jika kita melakukan suatu hal dengan mengharapkan selain daripada ridho-Nya, maka kita telah menempatkan hal lain tersebut sebagai sekutu (tandingan) dari Allah SWT.

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ 
Sesungguhnya barang siapa yang menyekutukan Allah, maka Allah haramkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidaklah ada bagi pelaku kezaliman itu para penolong. (QS. Al-Maidah: 72)

Sebuah contoh sederhana, jika kita beribadah lebih khusyu ketika ada orang lain yang melihat, maka ikhlas kita masih dipertanyakan.

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ
 “Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari apa yang aku takutkan menimpa kalian adalah syirkul ashghar (syirik kecil).Maka para shahabat bertanya, ”Apa yang dimaksud dengan syirkul ashghar?” Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab,“Ar-riya’.” (HR. Ahmad no. 27742)

Pada contoh lain, seorang pemain basket yang melempar bola ke ring, atau pemain bola yang menendang bola ke gawang, harus meyakini bahwa yang menentukan keberhasilan (atau kegagalan)nya adalah Allah SWT. Bukan hanya karena dirinya sendiri, atau orang lain.

يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ . فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ
Wahai ‘Abdullah bin Qois, katakanlah ‘laa hawla wa laa quwwata illa billah’, karena ia merupakan simpanan pahala berharga di surga” (HR. Bukhari no. 7386)

Jika kita berharap kepada selain Allah SWT, kekecewaan yang akan kita dapat. Karena hanya Allah SWT yang sempurna.
 كل يني ادم خطاء وخيرالخطائين التوابون
Rasulullah bersabda, "Setiap keturunan anak Adam melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat".(HR.Ath-Tirmidzi)

Akhir kata, ikhlas hanya kita peroleh, jika kita terus menerus berusaha untuk mencari ridho-Nya. Sebuah kesombongan, jika merasa bahwa diri sudah meraih tahap ikhlas yang sebenarnya.
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al Anbiya’: 90)

Minggu, 14 Februari 2016

Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus...

Saat kuliah, saya pernah belajar 1 mata kuliah Filsafat Ilmu (2 sks). Kurang lebih, belajar filsafat itu adalah belajar mengenai cara berfikir, atau belajar mengenai cara belajar itu sendiri.. membingungkan ya? :D

Sederhananya, jika seseorang mendasari cara berfikirnya pada logika dan bukti-bukti ilmiah (empiris).. itulah filsafatnya Logika dan Empirisme. Sebagaimana yang biasa kita pelajari di bangku sekolah. Contoh logika adalah "aku berfikir, maka aku ada" (Descartes). Jadi, kebenaran adalah hasil dari penalaran terhadap fakta-fakta. Sementara contoh Empirisme adalah percobaan di laboratorium fisika. Sebuah mobil-mobilan digerakan dari 1 posisi ke posisi lainnya dengan kecepatan konstan, sambil dihitung waktunya. Berdasarkan beberapa percobaan maka dapat dibuktikan kebenaran rumus bahwa kecepatan berbanding lurus dengan perpindahan, dan berbanding terbalik dengan waktu.

Jika seseorang melandasi cara berfikirnya dengan perhatian pada menghindari hal-hal yang dapat melukai perasaan orang lain, maka filsafatnya adalah Humanisme. Ada juga orang yang memberikan perhatian besar pada hak-hak perempuan, maka filsafatnya adalah Feminisme.

Lalu bagaimana dengan orang beragama.. apa filsafatnya? Filsafatnya adalah Teologi. Dalam Islam, referensi utamanya adalah Al-Qur'an (firman Allah SWT) dan Hadits Rasul (perkataan/ perbuatan Nabi Muhammad SAW).

Filsafat Teologi bertentangan dengan paham Sekuler/ Materialisme yang mengakui bahwa yang hakiki di dunia ini hanyalah benda nyata (tidak ada yang ghaib). Materialisme berkembang menjadi Kapitalisme, yang menghubungkan manusia dengan barang apa yang dimilikinya/ diproduksi sesuai dengan profesinya. Oleh karena Kapitalisme berujung pada kesenjangan sosial, maka dicetuskanlah ide kepemilikan barang secara bersama (Komunisme/ Sosialisme).

Apapun yang menjadi filsafat seseorang  disadari atau tidak, disengaja atau tidak, itulah yang akan melandasi segala ucapan dan perbuatannya. Oleh karena dalam mengambil setiap keputusan, pastilah didasari pada suatu hal yang menurutnya paling penting, dan itulah filsafat yang dianutnya.

Lalu apakah orang beragama tidak boleh berpikir menggunakan akalnya, atau melakukan percobaan untuk membuktikan suatu hal? Tentu saja boleh. Dalam Islam, firman Allah SWT yang pertama turun adalah Al-Alaq ayat 1-5, yang berisi perintah untuk membaca/ mempelajari alam semesta dengan menyebut nama-Nya. Namun jangan akal dipakai untuk melakukan rekayasa ilmiah, dalam rangka membuktikan logika seseorang bahwa Nabi Adam a.s tidak diturunkan dari surga, melainkan adalah keturunan kera. Jangan juga menggunakan alasan Demokrasi, untuk melegalkan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender), meskipun hal tersebut dilarang oleh Allah SWT. Jika hal tersebut dilakukan.. maka apa yang akan kita jawab, saat malaikat Munkar dan Nakir bertanya siapa tuhan kita?

Wallahu a'lam bishowab.

Jumat, 01 Januari 2016

Islam Means Submission

God is the Creator, the one that exists before any other exists, the Greatest, the Forgiver, and the Most Merciful..
https://marhabayamustafa.wordpress.com/2014/11/27/asma-ul-husna-99-divine-attributes-of-allah/

Being a Muslim is to do a full submission to the only 1 God, as other God's creatures do..

"The seven heavens and the earth and whatever is in them exalt Him. And there is not a thing except that it exalts [ Allah ] by His praise, but you do not understand their [way of] exalting. Indeed, He is ever Forbearing and Forgiving." (Qur'an surah Al-Israa, ayah 44)



Muslims must not worship/pray to anything other than Him.

"It is You we worship and You we ask for help." (Qur'an surah Al-Fatihah, ayah 5)

(ancient Goddess.. today's Goddess?

Submission means surrender.. Believers must do exactly what God told them to do.

"..And they say, "We hear and we obey. [We seek] Your forgiveness, our Lord, and to You is the [final] destination." (Qur'an surah Al-Baqarah, ayah 285)

As in Physics, movement of an object is calculated relatively to other object (or a certain point)..
https://www.youtube.com/watch?v=jYMU6bn5GHY

..we could not judge a thing is good or bad, if we do not have guidance (anchor point). Thus, Allah SWT give us Qur'an through prophet Muhammad SAW.

"This is the Book about which there is no doubt, a guidance for those conscious of Allah." (Qur'an surah Al-Baqarah, ayah 2)







Jumat, 04 September 2015

Syiah Imamiyah

"Umatku, umatku, umatku"..

Itulah kata-kata terakhir dari Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Sang rasul terakhir meninggal dunia pada usia 63 tahun, tepat pada hari dan tanggal beliau dilahirkan, yaitu pada 12 Rabiul Awal tahun 11 H.

Wafatnya Rasulullah SAW

Orang-orang yang berkumpul di depan rumah Rasulullah SAW tampak sedih dan kebingungan. Lalu Abu Bakar As-Shiddiq tampil ke depan untuk membacakan sebuah ayat.

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.  (QS Ali-Imran: 144)

Setelah wafatnya Rasulullah saw. tidak ada Nabi yang berfungsi membawa dan menyampaikan Risalah. Maka kedudukan beliau sebagai Nabi tidak ada pengganti. Namun kedudukan beliau sebagai penguasa atau kepala negara, ada pengganti. 

Perwakilan dari kaum muhajirin dan anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa'idah untuk menentukan pengganti Rasulullah Muhammad SAW dalam posisi kepemerintahan. Mereka adalah orang-orang yang adil, berilmu, dan memiliki hikmah kebijaksanaan. Dalam hal ini, dapat kita lihat bahwa syariat pemilihan pemimpin bukanlah menggunakan sistem one-man-one-vote atau pemilihan langsung oleh seluruh rakyat.

“Seandainya kalian mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, sungguh mereka akan menyesatkan kalian dari jalan Allah (Qs:al An’aam:116)

Pada musyawarah itu terpilihlah Abu Bakar As-Shiddiq untuk menjadi pemimpin khalifah. Ia memerintah pada tahun 11 - 13 H. Kemudian dilanjutkan oleh Umar bin Khatab pada 13 - 23 H, Utsman bin Affan pada 23 -35 H, dan Ali bin Abi Thalib pada 35 - 40 H.


Perang Jamal

Utsman bin Affan tewas terbunuh pada 35 H di tangan para pemberontak. Setelah itu, terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat muslim. Sebagian berpendapat bahwa hukum qishash harus segera ditegakkan terhadap pembunuh Utsman, sementara sebagian lain berpendapat bahwa sebaiknya qishash dilakukan setelah situasi lebih tenang. Namun demikian, sebagian besar sahabat memilih untuk berlepas diri dari kekacauan tersebut.

Ketika terjadi kekacauan antar kaum muslimin, jumlah keseluruhan sahabat Raulullah yang masih hidup pada saat itu mencapai puluhan ribu orang. Adapun jumlah sahabat yang terlibat dalam kekacauan ini tidak sampai seratus orang, bahkan tidak mencapai tiga puluh. (penuturan Muhammad bin Sirin)

Setelah diketahui bahwa sebagian dari pembunuh Utsman berada di Basrah, berangkatlah az-Zubair bin al-Awwam, Thalhah bin Ubaidullah, dan Aisyah binti Abu Bakar ke sana. Menurut ketiganya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menegakkan hukum qishash terhadap para pembunuh Utsman, karena orang-orang itu pemicu utama keributan yang terjadi.

Ali bin Abi Thalib kemudian menyusul rombongan, untuk mencegah hal tersebut. Setelah terjadi perundingan, mereka semua memutuskan untuk tidak melanjutkan perselisihan, untuk menghindari peperangan saudara.

Sangat disayangkan, orang-orang munafik yang mengetahui keputusan tersebut merencanakan makar. Pasukan Thalhah diserang pada waktu shubuh, agar mengira bahwa serangan tersebut merupakan dari pasukan Ali. Umat muslim pun terlibat dalam perang saudara yang sangat menyedihkan.

az-Zubair terbunuh saat akan meninggalkan medan perang, Thalhah mati syahid tertembus panah saat berseru untuk menghentikan peperangan, dan Aisyah merangsek masuk ke medan perang untuk berseru agar kembali mengingat Allah SWT.

Aku melihat unta yang ditunggangi Aisyah saat itu seperti seekor landak, karena banyaknya anak panah yang menancap. (penuturan Abu Raja al-Atharidi)

Ali bin Abi Thalib yang melihat jasad Thalhah, turun dari tunggangannya, lalu ia berkata Wahai Abu Muhammad (Thalhah), aku sangat terpukul melihat engkau tergeletak di tengah lembah ini, di bawah cahaya bintang. Hanya kepada-Nya aku mengadukan semua lara di dada ini.


Perang Shiffin

Ketika Rasulullah dan kaum Muslimin membangun masjid di Madinah. Di tengah-tengah khalayak ramai yang sedang hilir mudik itu, terlihatlah Ammar bin Yasir sedang mengangkat batu besar. Rasulullah langsung mendekatinya, kemudian bersabda di hadapan semua shahabatnya, "Malangnya Ibnu Sumayyah, ia dibunuh oleh golongan pendurhaka!"

Kata-kata itu diulangi oleh Rasulullah sekali lagi... kebetulan bertepatan dengan ambruknya dinding di atas tempat Ammar bekerja, hingga sebagian kawannya menyangka bahwa ia tewas. Dengan nada menenangkan dan penuh kepastian, Rasulullah menjelaskan, "Tidak, Ammar tidak apa-apa. Hanya nanti ia akan dibunuh oleh golongan pendurhaka!"

Wafatnya Ammar bin Yasir terjadi di usianya 94 tahun pada Perang Shiffin, yaitu pada 1 Shafar 37 H. Perang saudara itu terjadi antara pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan pasukan Muawiyah bin Abi-Sufyan. Muawiyah menolak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, sebelum dituntaskannya pengusutan atas pembunuhan Utsman bin Affan.

Dalam Al Bidayah wa An Nihayah, disebutkan Abu Muslim Al Khaulani beserta beberapa orang mendatangi Muawiyah dan bertanya, "Apakah engkau melawan Ali?" Muawiyah menjawab, "Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mengetahui kalau ia (Ali) lebih baik dariku, lebih utama, dan lebih berhak dalam masalah ini (kekhalifahan) daripada aku."

"Akan tetapi, bukanlah kalian mengetahui bahwa Utsman terbunuh dengan keadaan terzalimi, sedangkan saya adalah sepupunya yang berhak meminta keadilan. Katakan kepadanya agar ia menyerahkan pembunuhnya, maka saya menyerahkan persoalan ini kepadanya."

Dalam keadaan terdesak, kubu Muawiyah mengajukan gencatan senjata, yang kemudian diterima oleh Ali bin Abi Thalib. Pada perundingan tersebut, khalifah Ali bin Abi Thalib diwakili oleh Abu Musa al-Asy'ari, sedangkan Muawiyah diwakili oleh Amru bin Ash.  


Perang Nahrawan

Keputusan perdamaian pada Perang Shiffin membuat perpecahan pada diri pendukung Ali bin Abi Thalib. Sebagian dari orang-orang yang sebelumnya pendukung setia (Shia) Ali, berubah menjadi penentang (Khawarij). Kelompok Khawarij menyerukan slogan "Tidak ada keputusan, kecuali keputusan Allah SWT".

Tindakan Khawarij tidak hanya secara verbal, namun juga menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Salah satu kejahatan yang mereka lakukan adalah membunuh sahabat Abdullah bin Khabbab dan budak wanita miliknya yang tengah mengandung (Mushanaf Ibnu Syaibah (XV/310).

Pada bulan Muharram tahun 38 H, Ali bin Abi Thalib bersama pasukannya yang berjumlah 10.000 personel bergerak ke arah mereka yang telah berkumpul di Nahrawan (Ansabul Asyraf (II/63). Dalam perang ini, Khawarij mengalami kekalahan telak.

Dua tahun setelahnya, kelompok Khawarij melakukan makar dengan membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.


Al-Saba'iyyah

Al-Saba'iyyah merupakan sebuah paham yang dibawa oleh Abdullah bin Saba'.

Berkata amirul mukmin Ali bin Abi Thalib:
“Aku diuji dengan kamu sekalian dengan tiga perkara dan dua benda; Pekak tetapi mempunyai pendengaran, bisu tetapi boleh berkata-kata, buta tetapi boleh melihat. Tidak ada yang jujur apabila bertemu dan tiada orang yang boleh dipercayai ketika ujian.. kamu telah keluar meninggalkan Ibnu Abu Talib sebagaimana bayi keluar meninggalkan perut ibunya" (Nahj Al-Balagha: m/s 142).

Abdullah bin Saba' merupakan seorang Yahudi yang kemudian memeluk Islam. Namun demikian, di dalam hatinya masih kekal agama Yahudi. Ia adalah orang pertama yang mengatakan hak Ali bin Abi Thalib menjadi Imam, pewaris wasiat Rasulullah SAW. 

Al-Hafidh adz-Dzahabiy rahimahullah berkata, ”Abdullah bin Saba’ termasuk orang-orang zindiq yang paling ekstrim, sesat, dan menyesatkan. Aku mengira Ali yang membakarnya dengan api. Al-Jauzajani berkata, ’Dia meyakini bahwa alqur’an itu hanya satu bagian dari sembilan bagian yang ilmunya ada pada Ali. Ali mengusirnya setelah bertekad melakukannya”.


Syiah Imamiyah

Sebagian besar pengikut Syiah Imamiyah akan mengatakan bahwa Abdullah bin Saba' hanyalah tokoh fiktif. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri banyaknya pengaruh agama Yahudi di dalam Syiah Imamiyah.

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu sebelum kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)". dan jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Prinsip utama di dalam Rukun Islam Syiah Imamiyah adalah Imamiyah/ Al-Wilayah.

“Daripada Abu Jaafar katanya, Islam ditegakkan di atas lima rukun : solat, zakat, puasa,  haji  dan  wilayah  dan  tidak  diseru  kepada sesuatu  ajaran  seperti  mana  diseru kepada Al-Wilayah” (Tanqih al-maqal fi ilm al-rijal: 2/ 183, 184)

Para imam alaihimussalam mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, tidak ada sesuatu yang tidak mereka ketahui. (Muhammad bin Yakob bin Ishak Al-Kulaini, dalam kitab Al-Kafi)


“Sesungguhnya para sahabat kami dari kalangan Syiah Imamiyah telah bersepakat bahwa para imam itu maksum dari berbagai dosa kecil ataupun besar, secara sengaja, keliru, ataupun lupa, sejak mereka lahir hingga bertemu Allah Subhanahu wata’ala.” (Biharul Anwar, 25/350—351)


Dua belas (12) orang Imam tersebut adalah:
  1. Abu Al-Hasan Ali bin Abi Talib - Al-Murtada (23 Pra Hijriah-40 Hijriah)
  2. Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali - Al-Zaki (2-50H)
  3. Abu Abdullah Al-Husin bin Ali - Saidu As-Syuhada' (3-61H)
  4. Abu Muhammad Ali bin Husin - Zainul Abidin (37-95H)
  5. Abu Jafar Muhammad bin Ali - Al-Baqir (57-114H)
  6. Abu Abdullah Jafar bin Muhammad - Al-Sodiq (83-148H)
  7. Abu Ibrahim Musa bin Jafar - Al-Khadim (128-183H)
  8. Abu Al-Hasan Ali bin Musa - Al-Ridza (143-203H)
  9. Abu Jafar Muhammad bin Ali - Al-Jawaad (195-220H)
  10. Abu Muhammad Ali bin Muhammad - Al-Hadi (212-245H)
  11. Abu Muhammad Al-Hsan bin Ali - Al-Asykuri (232-260H)
  12. Abu Al-Qasim Muhamad bin Al-Hasan - Al-Mahdi (652H)
 
Keyakinan mutlak pengikut Syiah Imamah terhadap perkataan 12 Imam mereka, sudah dapat digolongkan sebagai mempersekutukan atau syirik terhadap Allah SWT. Hal itu pula yang dilakukan oleh Yahudi terhadap orang alim dan rahib mereka.

Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al masih itu putera Allah". Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?. Mereka menjadikan orang- orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At Taubah 30-31)

Hal tersebut diperingatkan oleh Allah SWT di dalam firmannya:

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS An-Nahl : 116)

Yahudi juga memiliki Imam Besar, antara lain:
  1. Yesua (atau Yosua) bin Yozadak (515-490 SM) setelah perbaikan Bait Suci
  2. Yoyakim bin Yosua (490-470 SM)
  3. Elyasib bin Yoyakim (470-433 SM)
  4. Yoyada bin Elyasib (433-410 SM)
  5. Yonatan bin Yoyada (410-371 SM)
  6. Yadua bin Yonatan (371-320 SM)
  7. Onias I bin Yadua (320-280 SM)
  8. Simon I bin Onias (280-260 SM
  9. Eleazar bin Onias (260-245 SM)
  10. Manasseh bin Yadua (245-240 SM)
  11. Onias II bin Simon (240-218 SM)
  12. Simon II bin Onias (218-185 SM)
  13. Onias III bin Simon (185-175 SM) dibunuh tahun 170 SM
  14. Jason bin Simon (175-172 SM)

Kitab para rahib Yahudi (rabbi) yang paling diakui adalah Talmud, yang terdiri dari 2 bagian:
1. Kitab Mishnah : Kitab UU Kehidupan, terdiri dari 6 bagian
   - Zeraim : tentang pertanian
   - Moed : tentang puasa dan hari-hari besar
   - Nashim : UU yang berhubungan dengan wanita
   - Nazikin : masalah kejahatan/ kriminalitas
   - Kodashim : masalah sesembahan dan korban
   - Toharoth : masalah thoharoh (bersuci)
2. Kitab Gemara : tafsir, syarah, penjelasan, komentar, atau catatan pinggir Mishnah


Sebagaimana Yahudi, Syiah Imamiyah juga memiliki kitabnya yang paling diakui.

Al-Kafi merupakan seagung-agung kitab Islam dan sehebathebat karangan Imamiah. Tidak ada yang dihasilkan untuk Imamiah seumpamanya. (As-Sayid Al-Muhaqqiq Abas Al-Qummi)

Setelah masuknya paham Imamiyah, masuklah pengaruh-pengaruh lainnya agama Yahudi pada Syiah Imamiyah:


1.  Kedudukan Ali bin Abi Thalib r.a.



Terdapat perbedaan pendapat antara Syiah Imamiyah dan Ahlussunnah wal Jamaah terkait peristiwa Ghadir Khum. Syiah Imamiyah mengakui bahwa pada peristiwa tersebut, Rasulullah SAW telah menunjuk Ali bin Abi Thalib r.a sebagai penerusnya.

Siapa saja yang aku menjadi maulanya, maka Ali menjadi maulanya. (Musnad Imam Ahmad 2/71 nomor 641, Mustadrak Hakim 3/109-110, Imam Turmudzy dalam Sunan 10/214)

Adapun Ahlussunnah wal Jamaah berpendapat bahwa perkataan tersebut adalah terkait penugasan Ali bin Abi Thalib r.a ke Yaman, sebagaimana penugasan lainnya pernah dilakukan sebelumnya.

Dari Sa’d bin Abi Waqqaash ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi tugas ‘Ali bin Abi Thaalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). ‘Ali pun berkata : ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah ?’. Maka beliau menjawab : ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku ?” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 4416 dan Muslim no. 2404).

Sebagaimana kita ketahui, bahwa Nabi Musa a.s dan Nabi Harun a.s saling bahu membahu dalam menegakkan agama Allah SWT.

Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami". Allah berfirman: "Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa. (QS. Thaha: 20)

Nabi Harun a.s lahir 4 tahun sebelum kelahiran Nabi Musa a.s, dan wafat 11 bulan sebelum meninggalnya Nabi Musa a.s.

Adapun Yahudi mengakui bahwa Nabi Harun a.s. sebagai Imam Besar pertama Bangsa Israel. Diriwayatkan bahwa Nabi Harun a.s dan putra-putranya dipisahkan dari orang-orang lain, dan melakukan ritual selama 7 hari. Pada hari ke-8, Imam Besar mempersembahkan korban dan memberkati Bangsa Israel, lalu masuk ke kemah suci bersama Nabi Musa a.s. Setelah keluar, mereka memberkati bangsa itu, lalu tampaklah kemuliaan Tuhan kepada segenap bangsa itu. Setelah Nabi Harun a.s. wafat di atas Gunung Hor, Eleazar (putranya) menggantikannya sebagai Imam Besar. Keturunan selanjutnya adalah Pinehas, Abisua, Buki, Uzi, Zerahya, Merayot, Amarya, Ahitub, Zadok, Ahimaas, Azarya, Yohanan, Azarya, Amarya, Ahitub, Zadok, Salum, Hilkia, Azarya, Seraya, Yozadak, sampai dengan Yesua.


2.  Tawassul

Syiah Imamiyah bertawassul (berdoa dengan memohon perantara) kepada Ahlul Bait dan 12 imam.
https://syiahahlulbait.wordpress.com/teks-doa-doa/doa-tawassul-ahlul-bait-as/

Yahudi juga melakukan tawassul (perantara) terhadap Imam Besar mereka.

Hanya 1 Tuhan, dan 1 Perantara antara Tuhan dan Manusia. Manusia itu adalah Messiah Yeshua. (1 Timothy 2:5)

Adapun Ahlussunnah wal Jamaah tidak melakukan tawassul dengan landasan firman Allah SWT:

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar (kafir).” (QS. Az Zumar [39]: 3)


3.  Waktu Sholat

Agama Yahudi mewajibkan pengikutnya untuk melakukan sholat 3 waktu dalam 1 hari, yaitu saat pagi (shacharit), siang hari (minchah), dan malam (arvith). Di dalam riwayatnya, disebutkan bahwa Nabi Ibrahim memperkenalkan sholat shacharit, Nabi Ishak mencontohkan sholat minchah, dan Nabi Yakub menambahkan sholat arvith.

Syiah Imamah mengambil 3 waktu sholat berdasarkan dalil:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan Qur`anal fajri. Sesungguhnya Qur`anal fajri itu disaksikan (QS. Al-Isra`: 78)

Syiah Imamah menafsirkannya:
1) Waktu untuk Dzuhur dan Ashar ketika matahari tergelincir
2) Waktu untuk Maghrib dan Isya ketika gelap malam
3) Waktu untuk Shubuh ketika menjelang fajar 

Adapun dalam pandangan Ahlussunnah wal Jamaah, waktu sesudah matahari tergelincir sampai dengan gelap malam merupakan waktu Sholat Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Sementara waktu Sholat Shubuh terpisah, dan ditegaskan dengan kata "disaksikan".



Dalam hadits Rasulullah SAW dijelaskan lebih spesifik, waktu-waktu tersebut:

Dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa Nabi SAW didatangi oleh Jibril as dan berkata kepadanya, "Bangunlah dan lakukan shalat." Maka beliau melakukan shalat Zhuhur ketika matahari tergelincir. Kemudian waktu Ashar menjelang dan Jibril berkata, "Bangun dan lakukan shalat." Maka beliau SAW melakukan shalat Ashar ketika panjang bayangan segala benda sama dengan panjang benda itu. Kemudian waktu Maghrib menjelang dan Jibril berkata, "Bangun dan lakukan shalat." Maka beliau SAW melakukan shalat Maghrib ketika mayahari terbenam. Kemudian waktu Isya` menjelang dan Jibril berkata, "Bangun dan lakukan shalat." Maka beliau SAW melakukan shalat Isya` ketika syafaq (mega merah) menghilang. Kemudian waktu Shubuh menjelang dan Jibril berkata, "Bangun dan lakukan shalat." Maka beliau SAW melakukan shalat Shubuh ketika waktu fajar merekah/ menjelang. (HR Ahmad, Nasai dan Tirmizy)


4.  Waktu Berbuka Puasa


Yahudi memiliki 6 hari puasa (yang dilakukan secara umum) dalam 1 tahun. Dua puasa (Yom Kipur dan Tisha B'Av) tergolong sebagai puasa besar, dan 4 puasa (Gedalya, Tebet, Ester, dan Tammuz) tergolong ke dalam puasa kecil. Puasa Yom Kipur dilakukan untuk menebus dosa dalam 1 tahun, sementara 5 puasa lainnya dilakukan untuk memperingati peristiwa bersejarah tertentu bagi umat Yahudi. Seluruh puasa yahudi diakhiri saat 3 bintang terlihat di langit malam.

Syiah Imamiyah juga berbuka puasa menunggu malam, dengan mendasarkan pada ayat sbb:

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ
 “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqoroh : 187)

Adapun Ahlussunnah wal Jamaah menggunakan sunnah Rasulullah SAW untuk mengetahui kapan tepatnya waktu awal datangnya malam.

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ
Apabila malam telah tiba dari arah sini dan siang telah berlalu dari arah sini serta matahari pun terbenam, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1954 dan Muslim 1100].




5.  Sholat Berjamaah


Yahudi tidak mengenal sholat berjamaah, hanya sholat bersama-sama di tempat yang sama.

Syiah Imamiyah menganjurkan untuk sholat berjamaah, namun dengan syarat-syarat Imam: baligh, berakal, pengikut Syiah Imamiyah, adil, anak dari perkawinan yang sah, lelaki (kalau makmumnya laki-laki), dan bacaannya benar.



Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)




6.  Batu Karbala


Syiah Imamiyah menggunakan Turbah untuk bersujud di atasnya.
Turbah (turab) adalah lempengan tanah yang dipadatkan. Tanah yang utama digunakan adalah tanah Karbala, untuk mengingat tragedi pembunuhan Husain bin Ali (cucu Rasulullah SAW).

Yahudi juga menggunakan alat tertentu untuk alas sujud.
Tefillin berisi gulungan kitab Torah (Taurat), sebagai pengingat bahwa Tuhan telah membawa keluar bangsa Israil (Bani Israil) dari Mesir, untuk menyelamatkan mereka dari kedzaliman Raja Fir'aun.

Syiah Imamiyah mendasarkan dalil sebagai berikut untuk sujud di atas tanah (turab).

جُعِلَتْ لِيَ الأرْضُ مَسْجِدًا وَ طَهُورًا
“Dijadikan الأرْضِ untukku sebagai tempat sujud dan suci lagi mensucikan.” (Shahih HR. Bukhari no. 323 dan 419, Muslim no. 810, Nasa’i no. 429, Ahmad no.2606, 13745, 20337,20352,dan 20463, dan darimi no. 1353 dan 2358 )

Adapun Ahlussunnah wal Jamaah mengartikan الأرْضِ adalah bumi, sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW:

فُضِّلْنَا عَلَى النَّاسِ بِثَلَاثٍ جُعِلَتْ صُفُوفُنَا كَصُفُوفِ الْمَلَائِكَةِ وَجُعِلَتْ لَنَا الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدْ الْمَاءَ وَذَكَرَ خَصْلَةً أُخْرَى

“Kami diberi keutamaan atas manusia lainnya dengan tiga hal: (pertama), Shaf kami dijadikan sebagaimana shaf para malaikat. (Kedua), ( الأرْضِ ) bumi dijadikan untuk kami semuanya sebagai masjid. (Ketiga), dan ( تُرْبَتُهَا ) debu/tanahnya dijadikan suci untuk kami apabila kami tidak mendapatkan air." (Shahih HR. Muslim no. 811)

Lebih jelasnya dapat dilihat pada hadits Rasulullah SAW berikut ini:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ


Dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seluruh ( الأرْضِ ) bumi adalah masjid (tempat sujud), kecuali kuburan dan bilik mandi." (Shahih HR. Ibnu Majah no. 737, Tarmidzi no. 236, dan Abu Dawud no. 415 )



7.  Sholat Menghadap Kubur 

Syiah sholat menghadap kuburan.

Yahudi juga melakukan sholat menghadap kubur.

Adapun Ahlussunnah wal Jamaah tidak melakukan sholat menghadap kuburan, dengan dasar sabda Rasulullah SAW:

لاَ تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ وَلاَ تَجْلِسُوا عَلَيْهَا

Janganlah shalat menghadap kubur dan janganlah duduk di atasnya” (HR. Muslim no. 972).


قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ؛ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

 
Semoga Allâh membinasakan kaum Yahudi. Mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid. [HR. Bukhari (I/531 no. 437) dan Muslim (I/376 no. 530) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]



Akhir kata, apabila ada salahnya itu dari diri saya pribadi, apabila ada benarnya itu adalah dari Allah SWT.



سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”.


Jumat, 28 Agustus 2015

Ukhuwah Islamiyah





اعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Qs.3:103)